SWAB Bikin Pengap

Koran-Tempo-September-15

Ada syarat baru masyarakat dalam bermobilitas. SWAB! Tes usap yang santer disebut SWAB ini memiliki nama ilmiah Polymerase chain reaction (PCR). Tes PCR dinilai memiliki akurasi tinggi dalam mendeteksi dini keberadaan Novel coronavirus-19 (COVID-19) pada tubuh manusia. Tes ini akurat namun harganya yang menyebabkan sekarat. Bagaimana tidak? Paket tes biaya mandiri seharga Rp 3 juta hingga Rp 5 juta ini membuat masyarakat berpikir dua kali untuk mengikutinya.

Masyarakat migran atau masyarakat yang bekerja dengan mobilitas tinggi dihadapkan dengan pilihan dilematis. Sehingga dengan diberlakukannya syarat tersebut untuk wilayah-wilayah ‘merah’ COVID-19, memberatkan masyarakat. Tes SWAB menjadi beban meskipun sudah banyak alternatif pembiayaan dalam mendukung pemeriksaan tes usap tersbut.

Mesin dan Reagen Penyebab Biaya Melambung

Biaya tes SWAB mahal karena mesin dan reagennya menjadi penemuan baru dewasa ini. Keluhan ini juga diutarakan oleh Sekretaris Jendral Asosiasi Rumah Sakit Indonesia (ARSI) bernama Ichsan Hanafi. Satu mesin pengekstrak reagen hasil usap pasien berharga Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. Mesin ini inovasi dari adaptasi kemunculan COVID-19. Mesin ini mahal karena belum lazim dan sebuah inovasi baru.

Harga melambung tersebut juga menjadi polemik lantaran tes usap tidak semata-mata hanya tes SWAB. Tes pada rumah sakit tersebut dibarengi dengan tes medikal (medical checkup) lengkap pada masing-masing layanan kesehatan. Hal ini juga sebuah pilihan yang dilematis. Antara hasil tes akurat tetapi mahal atau hasil tes parsial tapi biaya dapat ditekan tanpa tes lengkap mengikuti cek seluruh komponen. Pengecekan tersebut seperti foto rontgen, tes endoskopi, tes darah, dan medical checkup lainnya.

Menekan Tarif Meningkatkan Deteksi

Pemerintah perlu membuat regulasi guna menekan biaya penyelenggaraan tes usap. Memprioritaskan keperluan tes usap adalah salah satu langkah represif dalam menanggulangi penyebaran virus COVID-19 pada masyarakat. Sayangnya sudah lebih dari empat bulan terhitung mulai April 2020 biaya tes usap ini belum mengalami penurunan tarif yang signifikan. Ini menyebabkan masyarakat masih terbebani apabila mereka berdomisi pada wilayah zona merah dan atau hendak memobilitas diri.

Upaya penekanan tarif telah banyak diinisiasi oleh lembaga-lembaga dan organisasi kesatuan kesehatan. Organisasi-organisasi tersebut antara lain Asosiasi Rumah Sakit Indonesia (ARSI) dan Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI). Upaya tersebut masih belum dapat menekan harga layanan tes usap. Lantas apakah kedepan akan menjadikan tes SWAB bikin pengap masyarakat?

Tinggalkan Balasan

×

Halo!

Klik salah satu kontak kami melalui Whatsapp Business atau surel admin@literansel.id

×