Terasing di Negeri Sendiri

2019-Terasing-di-Negeri-Sendiri

Papua. Mendengar kata tersebut sebagian terbayang eksotisme alam yang menarik perhatian siapa saja pernah menjejakan kaki di sana. Dari kejelian Gubernur Belanda J. van Baal di tahun 1953 membangun Hindia Belanda yang sekarang Jayapura-ia memilih suku yang bekerja keras dan cinta laut hingga Michael Rockefeller yang datang ke Agats dan meninggal di sungai Betsj pada tahun 1961-ia sebetulnya ingin mengumpulkan patung patung Asmat untuk dipamerkan di New York, Amerika Serikat.

Kontradiktif dengan keindahannya, hal memprihatinkan justru terjadi pada para warga yang mendiami Bumi Cendrawasih tersebut. Meskipun di Papua memiliki berbagai macam sub-suku yang mendiami, hal tersebut bukan ihwal yang menjadi penyebab pilu. Pembangunan yang terhambat karena faktor demografis dan sosiologis, membuat investor-investor sempat mundur guna memberikan dukungan pembangunan, baik fisik maupun non-fisik.

 

Merujuk dari Sejarah

Alam Papua beserta kehidupannya memiliki nilai historis yang kuat, terutama sejarah panjang penjajahan Belanda disana. Hingga saat ini, masih terdapat pertanyaan mengenai ‘kebebasan’ Papua Barat akan kemerdekaan. Apakah melalui perjanjian-perjanjian terdahulu, Papua telah ikut merdeka secara konstitusi seperti halnya satuan Indonesia (selain pulau Papua itu sendiri). Mengingat bahwa sejarah masih secara buram menceritakan apa yang menjadi proses disana, dari zaman penjajahan hingga kemerataan pembangunan.

Unsur-unsur menjadi gejolak tersendiri bagi warga penduduk disana. Budaya yang luhur terkadang masih memiliki nilai-nilai kolot yang menghambat perkembangan di sana. Namun, semakin berkembangnya zaman, Pemerintah Indonesia, melalui pembanguna fisik dan pembangunan sumber daya manusia di Papua, mulai membuka jalan yang tepat. Putra-putri Papua diberikan jalur khusus untuk dapat menerima pendidikan yang layak. Supaya ketika kembali ke Papua, mampu dapat mengembangkan komunitas ekonomi, sosial, budaya, hukum, kesehatan, dan pemerintahan di sana

Ekspedisi Tanah Papua

Koleksi buku ini dapat dimiliki dengan memproses pembelian klik di sini.

Ekspedisi Tanah Papua oleh harian Kompas memberikan pandangan dan catatan baru perihal manusia dan kemanusiaan di Papua. Mereka sempat tertinggal, tetapi punya cita-cita untuk berkembang maju. Kala buku ini dirangkum dari tulisan jurnalis-jurnalis Kompas, keadaan masih belum secerah saat ini ketika pembangunan mulai menyentuh Bumi Cendrawasih ini. Bagi penikmat penelitian, dan pecandu buku referensi, buku ini dapat menjadi rujukan dan kajian yang pas.

Tinggalkan Balasan