Kisah Sedih Mbah Ronasih

2020-National Geographic-Jugun Ianfu

Mbah Ronasih, salah satu penyintas Jugun ianfu, dari Kota Sukabumi yang kini hidup sendiri di rumahnya yang sederhana. Jugun ianfu adalah bagian dari kekejaman kepada para perempuan pada era Perang Asia Timur Raya.

Ditemani Desi, kucing peliharaannya, Mbah Ronasih hidup seorang diri dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan.

Ianfu sendiri adalah istilah untuk perempuan yang menjadi korban perbudakan seksual pada masa Perang Asia Timur Raya, yang tidak lain dipicu oleh negara Jepang. Mereka yang menjadu Jugun ianfu adalah masyarakat Indonesia kala itu, juga para perempuan tawanan perang yang berdarah Belanda.

Para penyintas Jugun ianfu, termasuk mbah Ronasih, menyimpan cerita pahit masa mudanya ketika dipaksa oleh tentara Jepang diamankan di sebuah rumah. Dimana rumah tersebut sudah terdapat beberapa perempuan Indonesia dan sisanya berketurunan Belanda. Beberapa saat setelah tiba di rumah itu, Ia didandani layaknya boneka cantik.

Setelah didandani, bagaikan petir menyambar, mbah Ronasih diminta memasuki ruangan yang sudah ada laki-laki berparas Jepang. Dari sana, kepedihan mbah Ronasih dimulai. Semenjak itu, perempuan 82 tahun ini dipaksa melayani hasrat seksual para tentara Jepang secara bergantian.

“Tiap hari selama tiga minggu penuh, para perempuan yang ditawan disana dipaksa untuk dipakai bergiliran melayani tamu. Setelah tiga minggu tersebut, mereka ‘dibuang’ dengan penuh luka psikis dan fisik.” Kata peneliti Jugun ianfu global, Christine Choi.

Kisah Pilu Penyintas Lain

Salatiga adalah kotamadya di Provinsi Jawa Tengan yang terletak di wilayah dataran sedang. Iklim sejuk menyelimuti kota ini. Namun kesejukan itu tak dirasa oleh Sri Sukanti. Sri adalah seorang penyintas Jugun ianfu yang kini tinggal di kota kecil tersebut. Ditemani suaminya, Sidiq Tonys dengan penuh selidik dan diam, Sri memaparkan kisahnya yang diculik kemudian dijadikan pemuas nafsu para serdadu Jepang.

“Bajingan! Lepaskan aku.” Kata itu terlontar ketika Sri Sukanti ‘dihajar’ oleh para serdadu Jepang. Dengan meronta di atas kasur lusuh, Sri terpaksa menerima perlakuan tersebut.

Sri diculik menuju Gedung Papak. Gedung ini berlokasi di wilayah Kabupaten Grobogan. Gedung yang sebelumnya diempunya oleh tentara Belanda ini menjadi saksi bagi Sri dan rekan-rekan perempuannya yang lain atas perilaku ketidak-manusiawian masa pendudukan Jepang. Di tempat itu pula kini menyimpan luka-luka para penyintas Jugun ianfu. Bangunan Ianjo ini masih berdiri hingga saat ini.

Menyelamatkan Diri dengan Menyamar Menjadi Laki-laki

Rita la Fontaine de Clercq Zubli adalah nama yang familiar bagi komunitas penyintas Jugun ianfu dan organisasi kemanusiaan dunia. Rita adalah salah satu penyintas yang selamat dari perbudakan seksual. Ia terselematkan karena menyamar menjadi laki-laki ketika hendak melarikan diri dari Ianjo di wilayah Jambi. Dimana Rita sempat diculik dan dipaksa melayani serdadu Jepang.

Kisah Rita tertuang pada sebuah buku berjudul Disguised. Penyamaranya menjadi laki-laki disarankan oleh pastor Belanda yang melayani kebaktian di sekitar wilayah Jambi. Pastor tersebut telah mengetahui kedatangan serdadu Jepang. Ia juga telah mengetahui bahwa banyak anak gadis dari Indonesia maupun keturunan Belanda yang diculik dan dijadikan budak seksual oleh serdadu Jepang.

Orang tua Rita memberi nama laki-laki sebagai Rick atau Richard ketika serdadu Jepang tersebut mulai menyisir wilayah domisilinya. Beruntung bagi Rita, bahwa Ia telah diinformasikan oleh pastor. Sehingga orang tuanya telah mendandani Rita sebagai laki-laki. Rita mengenakan baju laki-laki, rambutnya dipotong pendek, dan suaranya telah dilatih sedikit memberat seperti laki-laki. Sehingga selamatlah Rita dari penculikan paksa yang kelak dijadikan budak bernama Jugun ianfu oleh serdadu Jepang.

Masih Pilu Diingat

Bukan pilihan hidup menjadi penyintas Jugun ianfu oleh Ronasih, Sri Sukanti, dan juga Rita la Fontaine de Clercq Zubli. Mereka adalah saksi sejarah kekelaman perang Asia Timur Raya yang mau membuka kisahnya guna tercatat sebagai sejarah. Dimana pedihnya perang yang terjadi selalu menciptakan korban. Hingga muncul istilah, “Dimana ada perang, di situ ada perempuan yang menjadi korban.”

Baca kisah lengkap Jugun ianfu ini dengan mengoleksi National Geographic Indonesia edisi Agustus 2020.

Tinggalkan Balasan

×

Halo!

Klik salah satu kontak kami melalui Whatsapp Business atau surel admin@literansel.id

×