Digitalisasi Konten Naskah di Museum Taman Siswa

2

Perkembangan teknologi informasi dan jaringan menggeser kebiasaan masyarakat dalam menciptakan dan memanfaatkan informasi dalam babak baru. Kehadiran internet menjadi medium bagi masyarakat dalam kegiatannya berinformasi. Dunia jejaring yang menuntut banyak konten yang perlu dialih-mediakan dari cetak menjadi digital. Hal tersebut sebagai upaya adaptif memperluas keterjangkauan informasi guna memenuhi kebutuhan penggunanya. Bagaimana jika pengguna membutuhkan naskah-naskah informatif yang bernilai kesejarahan? Teruskan membaca artikel ini dengan sampling Museum Dewantara Kirti Griya atau Museum Taman Siswa di Kota Yogyakarta.

Mengenal Museum Dewantara Kirti Griya

Museum yang berlokasi pada Jalan Taman Siswa, Kota Yogyakarta ini berdiri di serambi kompleks sekolah Taman Siswa. Kompleks ini dulu bernama Gevangenis Laan Wirogunan yang tidak lain adalah tempat hunian tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara. Tokoh bernama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat ini membeli kompleks tersebut seharga 3.000 gulden. Aset tersebut sebelumnya dimiliki oleh seorang tuan tanah perkebunan Belanda bernama Mas Ajeng Ramsinah. Bangunan ini dibeli dari penghuni terakhir tersebut oleh Ki Hadjar Dewantara pada
14 Agustus 1934.

Kompleks Taman Siswa terdapat museum di sisi utara. Bangunan museum tersebut sebelumnya adalah tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara. Hunian ini dijadikan museum Kemudian terdapat pendapa di tengah-tengah kompleks yang dulunya dimanfaatkan untuk ruang belajar para murid Taman Siswa. Di sebelah barat pendapa terdapat bangunan kuncungan sedangkan di sebelah utara dan selatan terdapat tratag serta gombak yang merupakan bangunan tambahan. Bangunan gombak difungsikan sebagai tempat menyimpan gamelan.

Sampel naskah terdigitalisasi berjudul Serat Rekasaning Batin di Museum Dewantara Kirti Griya

Bangunan museum berdiri di depan bangunan untuk pendidikan Taman Siswa. Bangunan pendidikan itu sendiri terdiri dari Gedung Sekolah Taman Indria (Taman Kanak-kanak), Gedung Sekolah Taman Muda (Sekolah Dasar), Gedung Sekolah Taman Dewasa (Sekolah Menengah Pertama), Gedung Balai Persatuan Tamansiswa, Gedung Perkantoran dan Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa, dan Gedung Badan Pusat Wanita Tamansiswa. Semua lembaga tersebut dikelola di bawah naungan Yayasan Taman Siswa dari mulai diserahkan pada 18 Agustus 1951 hingga saat ini. Saat ini kompleks Taman Siswa telah terdaftar sebagai Cagar Budaya Nasional melalui SK Menteri No243/M/2015 dengan nomor registrasi RNCB.20160316.02.000054.

Koleksi Naskah Bernilai Sejarah

Museum Dewantara Kirti Kriya dalam perjalanan waktunya, melahirkan naskah-naskah yang memiliki nilai kesejarahan. Dalam mendampingi Ki Hadjar Dewantara dalam memperjuangkan pendidikan, terdapat jejak-jejak tulisan yang bermuatan pemikiran dan pergerakan. Ki Hadjar Dewantara adalah sosok yang menggabungkan pendidikan karakter dengan pendidikan modern yang kala itu dibawa oleh bangsa barat. Hal tersebut penting menurut pahlawan nasional kelahiran 2 Mei 1889 ini, karena pendidikan karakter menguatkan identitas bangsa timur. Sedangkan pendidikan modern dapat membantu menemukan metode ilmiah dalam membangun pribadi dan bangsa ke arah yang lebih layak.

Museum yang berdiri menghadap ke barat tepat di Jalan Taman Siswa ini menyimpan surat-surat yang pernah dituliskan oleh Ki Hadjar Dewantara. Selain itu, juga menyimpan bahan-bahan pustaka serta lembaran-lembaran tulisan dari berbagai macam bahasa dan negara. Juga tidak lupa menyimpan foto-foto bersejarah tempat tesebut dan film yang telah dialih-mediakan tentang Ki Hadjar Dewantara semasa hidup dan berkegiatan. Bahkan perabot-perabot rumah tangga sebelum ditempati oleh Ki Hadjar Dewantara masih tersimpan baik di kompleks ini.

Naskah Digital Ramah Akses

Tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara semasa hidup dapat menjadi sebuah benang merah perjuangan yang layak diteruskan. Dengan membacanya, peradaban bangsa ini akan mengetahui apapun yang telah dibangun pendahulunya, terutama dalam bidang pendidikan. Kini tulisan-tulisan tersebut yang tertuang pada naskah-naskah dapat diakses secara daring (dalam jaringan). Melalui situs Commons Wikimedia, telah terpilah-pilah naskah-naskah yang teralih-mediakan berdasarkan hak ciptanya. Pemilahan ini bertujuan untuk menghargai nilai intelektual naskah-naskah yang diciptakan oleh pencipta naskah tersebut.

Penulis bersama Nyi Sri Murniani (pihak museum) tim alih-media yang terdiri dari Liang-chih ShangKuan, Christopher Allen Woodrich, dan Siska Doviana

Museum Dewantara Kirti Griya telah bekerja sama dengan Wikimedia Indonesia dan Ford Foundation untuk melakukan alih-media naskah-naskah kuno tersebut. Melalui dukungan dua lembaga nirlaba tersebut, naskah-naskah tersebut kini dapat dipelajari dan diunduh oleh umum melalui akses daring. Adapun bagi yang berminat membaca naskah-naskah tersebut bisa mengaksesnya melalui pranala ini (klik). Sedangkan, untuk naskah-naskah mengaksesnya melalui pranala Wikimedia bahasa Inggris dengan mengekliknya.

Terdapat naskah-naskah seperti Babad Mataram, Babad Surakarta, Serat Lambang Praja, dan masih banyak naskah yang dapat dinikmati dan digunakan untuk menambah wawasan dan kebutuhan rujukan bagi penelitian.

Tinggalkan Balasan