Mewarnai Dunia Literasi dengan Wadas Kelir

2019-Situs-Postingan-Unggulan

Dunia literasi dapat mencakup semua kalangan secara komprehensif. Tidak terlepas pula dunia anak. Pada dunia literasi usia anak-anak, memberikan bahan bacaan sebagai sumber literasi memerlukan ketekunan yang kuat. Ketekunan itu berhasil dijalankan oleh Heru Kurniawan. Laki-laki kelahiran Kota Tegal pada 22 Maret 1982 ini ‘mewarnai’ dunia literasi dengan membuka taman baca ramah anak dan warga.

Berkaca Pada Lingkungan Sekitar

Heru yang keseharian mengajar pada jurusan Bahasa Indonesia di IAIN Purwokerto menjelaskan bahwa anak-anak di lingkungan sekitarnya tinggal saat ini di Purwokerto mayoritas enggan bersekolah dan menghabiskan waktu untuk bermain kurang manfaat.

Sebagian anak berusia taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama juga memiliki sifat pemalu. Sehingga banyak tertutup dari dunia luar. Hal itu membuat ilmu dan pengetahuan susah diserap oleh anak-anak tersebut. Hasilnya adalah beresiko keterbelakangan kemampuan pendidikan dan berpikir dalam menghadapi masalah.

Temuan ini yang membuat Heru merenung. Memahami situasi dan kondisi lingkungan hidupnya yang baru, Heru mencari upaya untuk memproyeksikan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari renungan tersebut, terbesitlah membuat taman baca yang ramah anak-anak, sesuai dengan mayoritas jumlah penduduk yang mendiami wilayah tersebut. Karena, menurut Heru, anak adalah investasi masa depan orang tuanya.

Rumah Kreatif Wadas Kelir Rumah Anak-anak Berprestasi

Tahun 2013 Heru memulai petualangannya dengan taman baca Wadas Kelir. Nama tersebut diambil dari nama jalan rumahnya. Wadas Kelir sendiri adalah bahasa Jawa yang apabila diserapkan menuju bahasa Indonesia menjadi batu besar yang berwarna. Batu tersebut mayoritas digunakan sebagai pondasi dalam membangun bangunan. Filosofi tersebut yang dimaknai pula oleh Heru dalam membuat taman baca.

Seiring dengan kepeminatan masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas yang disediakan pada taman baca Wadas Kelir, semakin banyak kebutuhan untuk mengembangkan sumber literasi tersebut. Heru membuka diri dengan membuka peluang pengembangan komunitas melalui sukarelawan. Sehingga dikembangkanlah konsep taman baca menjadi rumah kreatif.

Melalui rumah kreatif Wadas Kelir, banyak komunitas masyarakat lintas usia ternaungi. Semua dapat membaur dan menikmati suguhan fasilitas dan bahan pustaka yang disajikan. Hal ini memicu semangat Heru mewujudkan tujuan awal mendirikan taman baca ini. Berkat usahanya, serta dukungan masyarakat, Rumah Kreatif Wadas Kelir pada tahun 2018 menerima penghargaan pada kegiatan Gramedia Reading Community Competition di DKI Jakarta.

Literasi itu Ketekunan Beruntun

Upaya Heru Kurniawan yang dimulai tahun 2013 merupakan sebuah ketekunan yang konsisten dalam mencapai cita-cita. Heru berpesan kepada siapapun, tidak hanya pengembang komunitas literasi, untuk kembali menguatkan cita-citanya dalam mengembangkan komunitas. Mengembangkan komunitas itu perlu adaptif terhadap masyarakat. Bukan memaksakan kehendak untuk mencapai sebuah tujuan. Hal tersebut akan menjadi kendala terbesar masyarakat dalam menerima konsep.

Ada baiknya perlu adaptif terlebih dahulu terhadap lingkungan. Penyesuaian akan mempermudah masyarakat dalam menerima ide dan gagasan. Seperti halnya Wadas Kelir pada mulanya dianggap lucu oleh masyarakat. Namun setelah muncul kebermanfaatan, terutama untuk anak-anak, sepulang sekolah dapat tempat naungan untuk belajar. Baru masyarakat memahami cita-cita mulia komunitas. Pada akhirnya, penerimaan tersebut menjadi perubahan besar yang terjadi pada lingkungan sekitar Wadas Kelir berdiri.

Tinggalkan Balasan