Mengisahkan Papua dalam Jurnal Kolom Andawat

Kolom Andawat-Latifa Anum Siregar-dkk-2013

Upaya panjang dalam mempersembahkan Papua sebagai Tanah yang Damai telah banyak diusahakan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Adapun Pemerintah RI banyak terbantu oleh aktivis-aktivis dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam memperoleh data dan geospasial, serta nilai sosial realita yang ada pada masyarakat Papua. Dengan terjun langsungnya LSM, mempermudah lembaga-lembaga lainnya untuk mengimajinasikan bagaimana kondisi Papua sesungguhnya.

Salah satu bidang kerja LSM ada pada ranah hukum dan advokasi. Dukungan ini penting. Mengingat di Papua masih banyak korban atas kekerasan yang pernah terjadi. Bahkan masih berlangsung. Sambil melaksanakan pekerjaan advokasi hak azasi manusia (HAM), Aliansi Demokrasi untuk Papua (AlDP), merangkum kisah cerita pekerjaannya disana dalam bentuk catatan analisis. Hal tersebut guna memberikan gambaran pada pembaca atau pihak-pihak di luar Papua untuk memberikan gambaran yang kompleks dan kuat. Sehingga dapat memilah dan menciptakan kebijakan-kebijakan atau keputusan untuk memberikan upaya dukungan berdasarkan urgensivitasnya.

Pekerjaan Mendistribusikan Pemahaman Otonomi Khusus Papua

Otonomi Khusus Papua, atau yang sering disebut OTSUS Papua, adalah kebijakan Pemerintah yang mengkhususkan ruang dan sosial di Papua. Kebijakan ini didasarkan dari keadaan realitas Papua. Kebijakan ini direncanakan konstruktif untuk Papua. Namun, dalam penyelenggaraannya, butuh pendampingan yang metodis guna mengadaptasikan kebijakan OTSUS kepada masyarakat Papua.

OTSUS sendiri berangkat dari Undang-undang Republik Indonesia nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Pada inti Undang-undang ini, warga asli Papua atau keturunan Papua dengan ras Melanesia dapat secara otonom mengisi pembangunan-pembangunan di daerahnya. Dukungan Undang-undang ini juga meliputi nilai-nilai administratif dan substansial legal guna membangun berbagai macam bidang kehidupan masyarakat, termasuk kesehatan dan keamanan. Namun, tidak sedikit warga asli secara kritis memberikan persepsi bahwa ini adalah upaya intervensi pusat terhadap Papua itu sendiri yang mempunyai karakter dan latar belakang berbeda.

Mulai dari Soft Diplomacy Persipura Hingga Dialog Jakarta-Papua

Ketangguhan tim sepakbola Persipura Jayapura dalam perhelatan liga nasional dalam kurun waktu lima tahun (2008-2013) meningkatkan persepsi lembut khalayak mengenai ketangguhan masyarakat Papua. Hal tersebut karena mayoritas punggawa tim Persipura adalah warga asli Papua. Kemenangan Persipura menjadi juara di salah satu liga Indonesia tersebut menjadi pemersatu suku-suku di Papua dalam merayakan sukacitanya. Sejenak meninggalkan konflik-konflik yang pernah terjadi dan bersitegangan antar sesama di tanah Papua, Persipura merepresentasikan bukan hanya Jayapura, namun satu Papua. Hal ini juga sejenak meredam ketegangan antara Jakarta-Papua mengenai politik dan pemerintahan.

Jakarta menjadi salah satu fokus ketegangan bagi Papua. Persepsi warga Papua mengenai Jakarta sebagai Pusat Pemerintahan, yang secara psikologis telah banyak mengintervensi Pemerintahan di Papua, menimbulkan ketegangan. Selain itu setelah banyak kejadian di Papua, hal tersebut berimplikasi pada kekhawatiran dan kecurigaan kedua belah pihak. Maka diciptakan sebuah forum Dialog Jakarta-Papua. Wacana tersebut berhembus mulai tahun 2010. Hal tersebut diupayakan guna meredam ketegangan antar keduanya, apalagi setelah timbulnya Undang-undang Republik Indonesia nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua yang di hadapan khalayak Papua masih dinilai sebagai intervensi.

Kolom Andawat sebagai Pembuka Paradigma Khalayak tentang Papua

Kolom Andawat berisi catatan analisis kompleks mengenai peristiwa bidang-bidang seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, hingga sejumlah aksi kekerasan, penyelenggaraan Pemerintahan, dan gagasan-gagasan untuk Papua. Pada Kolom Andawat, bisa saja dinilai subjektif atau hiper-optimistik  yang penuh idealisme mengenai pembangunan Papua. Meskipun dalam perjalanannya penuh dengan kritik bahkan tidak sejalan dengan pandangan-pandangan pihak lain. Perbedaan perspektif dan pandangan tersebut menjadikan pemacu AlDP untuk bekerja lebih keras dan secara berkelanjutan mengadvokasi, menulis, menganalisis, dan mengabarkan khalayak mengenai Papua melalui tulisan yang komprehensif dan akurat.

Tinggalkan Balasan