Sepotong Adonan Madre

Mewarisi sebuah harta memang menyenangkan. terbayang diksi kata warisan yang membuat seorang pewaris berimaji bahwa akan ada kejutan berupa kekayaan atau kemampuan yang andal. Namun bagaimana jika yang diwariskan adalah sebuah resep turun-temurun yang pewarisnya pun tidak paham apa fungsinya. Tentu akan menjadi hal yang aneh, terlebih pemberi waris masih asing dalam bayangan ahli waris.

“Satu-satunya yang ingin saya teruskan adalah kebebasan saya.”

Madre juga merupakan judul salah satu prosa pendek di buku ini. Bercerita tentang perjuangan menghidupkan kembali sebuah toko roti kuno, Madre hadir dengan alur cepat dan penuh kejutan, tapi tetap menyenangkan!
Atau memang hal tersebut yang membuat kisah ini menyenangkan.

“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, Nenek saya seorang penjual roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”

Tansen, manusia tak punya mimpi dan berjiwa bebas, akhirnya memiliki mimpi yang punya nama: Tansen de Bakker.

Toko roti legendaris yang punya adonan biang bernama Madre bisa mengikat jiwa bebas Tansen. Kesetiaan dan kehangatan keluarga toko roti itu membuat Tansen nyatanya bisa hidup dengan rutinitas. Kehadiran Tansen menghidupkan lagi legenda roti yang lama mati suri. Rumah adalah tempat di mana saya dibutuhkan. Dan Madre lebih butuh Tansen daripada pantai dimanapun di dunia. Bergaul dengan adonan roti ternyata membuat Tansen menemukan keluarga baru.

Menyeduh Kumpulan Cerita Madre

Terdiri dari tiga belas prosa dan karya fiksi. Madre merupakan kumpulan karya Dee selama lima tahun terakhir. Untaian kisah apik ini menyuguhkan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno, dialog antara ibu dan janinnya, dilema antara cinta dan persahabatan, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan sejati. Lewat sentilan dan sentuhan khas seorang Dee, Madre merupakan etalase bagi kematangannya sebagai salah satu penulis perempuan terbaik di Indonesia.

Buku Madre memberikan pembaca pengetahuan baru tentang istilah-istilah pada tata boga, terutama bidang roti. Disampaikan dengan bahasa tekstual yang komunikatif, pengemasan yang baik membuat pembaca awam istilah-istilah tata boga-pun dapat memahami makna dari penulis. Kisahnya yang unik, serta mengangkat tema yang tidak biasa. Konfliknya sederhana namun dalam penyelesaiannya dapat membuat pembaca mempelajari berbagai hal dalam menjalani hidup. Buku Madre ini juga mematahkan stigma bahwa pertemuan laki-laki dan perempuan pada penokohan dinisbahkan ke arah percintaan. Namun disini tidak, fokus cerita ada pada nilai perjuangan.

Sayangnya, buku ini memiliki durasi baca yang singkat. Akhir dari kisah Tan dan Mey beserta Madre yang telah dikembangkannya terputus pada klimaks menjelang anti-klimaksnya. Sehingga dapat dipredikat menggantung sub-bab mengenai Madre itu sendiri. Secara keseluruhan, cerita yang termuat disini nikmat untuk dikonsumsi.

 

Tinggalkan Balasan