Pemberdayaan Produktif Jogokariyan

2019-Postingan-Situs-Traveliterasi-Jogokariyan-01

Membaca atau mendengar kata Jogokariyan mungkin sepanjang tahun 2019 adalah hal umum yang diketahui masyarakat. Jogokariyan adalah sebuah perkampungan padat penduduk di daerah Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Berlokasi beerdekatan dengan pintu pagar alun-alun selatan kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat menjadikan wilayah Jogokariyan ini mudah dijumpai.

Nama Jogokariyan melejit ketika sebuah masjid yang berdiri di wilayahnya menjadi populer karena program kerjanya. Bahkan masjid ini memiliki saldo Rp 0,-, namun dapat memiliki program yang menyejahterakan warga sekitar dan jamaah ibadahnya!

Menelusuri Sejarah Jogokariyan

Masjid Jogokariyan pada awal mulanya adalah sebuah langgar kecil yang dibangun swadaya oleh masyarakat hasil dari sumbangan saudagar batik. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1966. Namun mulai digunakan untuk kegiatan keagamaan mulai tahun 1967. Awal mulanya merupakan bangunan kecil yang dilindungi oleh atap kayu dan genting tanah liat. Bangunan inti ini berfungsi sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya.

Lokasinya berada di tengah perkampungan padat penduduk yang tidak jauh dari gapura Alun-alun Selatan dan jalan utama Parang Tritis Raya. Bersebelahan dengan sebuah rumah penduduk berukuran sedang, dikelilingi oleh rindangnya pepohonan akasia kala itu. Ketua pengurus (takmir) pertama kali yang tercatat adalah Amin Said. Ketua inilah yang mengusulkan pemindahan lokasi masjid dari selatan kampung menjadi di tengah kampung Jogokariyan seperti saat ini.

Jogokariyan

Nama Jogokariyan disematkan kepada masjid ini karena agar mempermudah pelafalan dan mempermudah masyarakat mengetahui lokasinya. Hal itu karena pada masa berdirinya masjid ini, Jogokariyan adalah wilayah pinggir kota Yogyakarta yang sepi. Selain itu, riwayat penyematan nama Jogokariyan ini diambil dari tafsir kisah Nabi Muhammad Sallallahuayhi wassalam. Kisahnya diadaptasi dari perjalanan dakwah Rasulullah ketika berdakwah di sebuah bangunan. Kemudian bangunan itu diberi nama Masjid Quba. Rasul pernah berdakwah di bangunan yang ditinggali oleh kaum Bani Salamah. Kemudian tempat tersebut juga diberi nama Masjid Bani Salamah. Hal itu pula yang diadaptasikan ke nama Masjid Jogokariyan.

Revolusi Pengelolaan dan Manajerial Masjid Jogokariyan

Masjid Jogokariyan pesat berkembang ketika mulai ‘ditukangi’ oleh Muhammad Jazir. Ketua yang mulai memimpin pada tahun 1999 hingga sekarang ini memiliki kreatifitas dan dukungan yang bagus. Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengembangkan banyak terobosan dalam pengelolaan dan program kesejahteraan jamaah juga warga sekitar. Salah satunya yang menjadikan takjub adalah pengelolaan kas keuangan masjid ini. Yakni kas harus selalu Rp 0,-.

Muhammad Jazir selaku ketua penurus Masjid Jogokariyan Ygyakarta

Padahal, semakin hari, penerimaan kasnya semakin kuat. Para donatur semakin mempercayakan pengelolaan donasinya kepada Masjid Jogokariyan. Disebutkan bahwa tujuh tahun pertama kepemimpinan Jazir, kas masuk sekitar Rp 7 juta hingga Rp 10 juta. Namun kini, kas mingguan hingga bulanan mencapai Rp 8 milyar hingga Rp 14 milyar. Nilai yang fantastis bagi masjid daerah.

Kepercayaan pendonor tersebut berangkat dari program-program yang dicetuskan oleh para pengurus yang dinahkodai oleh Jazir ini. Diantaranya adalah program ATM beras bagi warga yang memegang kartu ATM beras, yang notabene juga warga sekitar masjid. Selain itu, bagi para traveler terutama yang muslim dapat menikmati penginapan yang disediakan oleh Masjid Jogokariyan. Program rutin lainnya adalah buka puasa sunnah dan buka puasa bulan Ramadhan, dimana masjid ini mampu menyajikan kurang lebih 15 ribu porsi makanan pada tiap harinya! Juga dukungan literatif bagi para pegiat literasi untuk dapat memanfaatkan bahan-bahan bacaan keagamaan dan umum untuk belajar dari tempat ini. Program-program tersebut adalah salah satu rangkaian yang mendukung kas agar selalu Rp 0,- meskipun penderma semakin banyak.

Masyarakat sebagai Goal Setting Program Jogokariyan

Kesejahteraan masyarakat menjadi tujuan utama atas program-program yang diciptakan Masjid Jogokariyan. Meminjam kata bijak dari Ki Hajar Dewantara, Masjid Jogokariyan dikonstruksi mampu mengambil tiga peran pendidikan. Ing ngarso sung tulodo atau berada di depan memberi contoh, ing madyo mangun karso yang berarti berada di tengah memberi semangat, dan tut wuri handayani berarti di belakang memberi dorongan kepada masyarakat.

Hingga kini, masih banyak program progresif dan positif dari pengurus Masjid Jogokariyan yang dikembangkan. Selain ATM beras 24 jam, ada juga program renovasi rumah bagi warga sekitar yang kurang mampu. Selain itu, program beasiswa juga hendak dikembangkan. Sasarannya adalah warga masyarakat yang terseleksi dengan ilmu agama dan membaca kitab suci. Juga terdapat warung berkah (barokah) bantuan dana untuk membuka wirausaha tanpa bunga dari masjid.

Dan yang terpenting lagi, masjid ini telah menyadarkan para pegiat litaratif tentang akan pentingnya kolaborasi dan penguatan tujuan yang mengutamakan kesejahteraan masyarakat sebagai goal setting setiap kegiatan.

Tinggalkan Balasan