Keprihatinan Multatuli tentang Kolonialisme melalui Max Havelaar

Max Havelaar-Multatuli-2015

Multatuli merupakan nama samaran Dari Eduard Douwe Dekker. Dia adalah anggota Dewan Pengawas Keuangan Pemerintahan Hindia Belanda yang pertama kali ditempat di wilayah Batavia (Hindia-Belanda) pada 1840. Tahun 1842 ia meminta dipindahkan ke Sumatra Barat. Di tahun yang sama pula, ia dipindahkan ke Natal, Sumatra Utara, untuk bertugas sebagai Konteiler. Baru setelah itu, dirinya ditugaskan di wilayah Lebak, Banten.

Selama bertugas sebagai perpanjangan kolonial Belanda, Eduard Doues Dekker justru menolak Pemerintahan Belanda. Ketidakadilan, perampasan, serta penjajahan merupakan titik Awal dari kritik Dan penolakannya. Seorang Eduard Douwes Dekker jauh lebih memalingkan perhatiannya kepada fenomena kelaparan, penderitaan, serta ketertindasan yang dialami rakyat pribumi di Hindia-Belanda, terutama di wilayah yang pernah menjadi tempatnya bertugas.

Havelaar Menyaksikan Kepedihan Itu Bersama Keluarganya

Bertugas di Karesidenan Lebak adalah tantangan tersendiri bagi Max. Ia ditemani istrinya, Tina, dan anaknya, Max kecil mendapatkan tempat sebagai asisten residen di Lebak. Ketimpangan demi ketimpangan Max sadari semenjak Ia hadir di Karesidenan miskin tersebut. Menyaksikan realita bahwa Adipati bersekongkol dengan Residen Lebak guna meningkatkan pendapatan kas. Namun sayangnya dengan memeras keringat rakyat. Bahkan dengan memberi ganjaran hukuman bagi yang tidak patuh atau tidak sesuai dengan harapannya.

Mungkin penindasan tersebutlah yang juga disebut dengan korupsi. Bagaimana tidak? Hasil pungutan dilaporkan sedikit oleh Residen, namun nepotis yang dilakukan dengan Adipati hanya dinikmati oleh keluarganya. Melihat kenyataan yang terjadi, hati kecil Havelaar terusik. Penyelidikan demi penyelidikan Ia lakukan. Termasuk menyelidiki kenapa Residen sebelumnya meninggal secara tidak wajar. Sampai pada titik temuan bahwa Residen sebelumnya diintimidasi oleh penguasa lokal, namun sayangnya hati kecil Residen tersebut tidak mampu melawan keburukan tersebut.

Keprihatinan Multatuli terhadap Kolonialisme

Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan asisten Lebak, Banten, abad 19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin dan menderita. Diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etik dengan mendidik kaum pribumi elit, sebagai usaha ‘membayar’ utang mereka pada pribumi. Tragis, lucu dan humanis, Max Havelaar, salah satu karya klasik yang mendunia.

“Yang terburuk dari adegan-adegan di panggung itu adalah orang menjadi begitu terbiasa dengan kebohongan sehingga mereka terbiasa melontarkan kekaguman dan bertepuk tangan.” – Multatuli

Pramoedya Ananta Toer menyebutnya sebagai buku yang ‘membunuh’ kolonialisme. Kemunculannya menggemparkan dan mengusik nurani. Diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan diadaptasi dalam berbagai film dan drama, gaung kisah Max Havelaar masih menyentuh pembaca hingga kini.

Tinggalkan Balasan