Islam dalam Jeratan Liberalisme

Kemi-Adian Husaini-2019

Ahmad Sukaemi, pemuda desa di Kabupaten Madiun, adalah seorang santri yang brilian dan patuh terhadap pondok pesantren. Kemi, begitu sapaan pemuda alim ini adalah santri unggulan di Pesantren Minhajul Abidin. Kemi mengajar di sana bersama dengan sahabatnya bernama Rahmat. Keduanya adalah pemuda cemerlang asuhan Kyai Rois, sang guru. Keduanya adalah murid andalan Kyai Rois.

Perpisahan yang Tiba-tiba

Tiba di suatu pagi, Kemi terlihat gelisah dalam tindakannya. Hal tersebut memancing Rahmat untuk bertanya ada apa gerangan. Namun, Kemi mengisyaratkan belum saatnya memberi tahu apa yang Ia gundahkan kepada sahabatnya. Padahal, di bayangan pikirannya, telah berkecamuk gejolak untuk meninggalkan pesantren demi mengejar cita-citanya untuk berkuliah di Jakarta. Hatinya gundah untuk meninggalkan pesantren. Tetapi Ia juga perlu membuka wawasan pengetahuan di luar pondoknya yang konservatif tersebut di bayangannya.

Terbayang pula kesedihan Rahmat dan Kyai Rois apabila Kemi meninggalkan pondok demi mengejar cita-citanya. Keduanya adalah kesatuan yang tak terpisahkan di pondok. Kecerdasannya dan kehausannya akan ilmu menjadikan Kemi dan Rahmat menjadi wakil Kyai Rois dalam menyalurkan ilmu keagamaanya kepada para santri.

Tibalah pada hari dimana Kemi harus mengutarakan keinginanya kepada Kyai Rois. Ia didampingi oleh Rahmat untuk menghadap kepada Kyainya. Rahmat pun masih penasaran apa yang hendak diutarakan oleh Kemi. Hal itu karena Rahmat juga belum diberitahu oleh Kemi. Hingga kemudian Ia menyadari bahwa Kemi hendak meninggalkan pondok pesantren untuk kuliah. ‘Jakarta’. Kemi menyebut kota itu dengan nada yang lugas. Tujuannya mengenyam pendidikan pada suatu lembaga perguruan tinggi disana. Lantas apa yang mendasari Kemi berangkat kesana?

Menimba Ilmu yang Kontraproduktif dengan Ajaran di Pesantren

Kyai Rois dan Rahmat dengan berat hati melepas kepergian Kemi ke Jakarta. Ia dijemput oleh seseorang yang tidak asing bagi orang-orang pondok pesantren Minhajul Abidin. Orang itu juga tidak asing bagi Kyai Rois. Ia sempat berguru padanya. Namun, di tengah jalan orang yang menjemput Kemi tersebut menentang ajaran pondok yang dianggapnya kaku dan tidak mengikuti zaman. Laki-laki yang menjemput tersebut adalah Farsan. Mantan murid pondok pesantren Minhajul Abidin yang telah keluar dari tempatnya belajar. Ia mengejar keilmuan yang lebih bebas dan tidak terikat seperti ilmu yang diajarkan di pondok pesantren.

Sejalan dengan penjemputan itu, Rahmat bertambah gundah. Ia membayangkan apa yang diperbuat Farsan terhadap para ahli ilmu di Minhajul Abidin. Farsan telah melawan ajaran para guru di Minhajul Abidin dengan memilih menimba ilmu yang lebih bebas namun tak berpegangan. Rahmat pun mulai membayangkan apakah Kemi akan mengikuti jejak Farsan guna membuka liberalisme? Akankah Kemi akan menjadi pelawan guru-gurunya di pondok pesantren Minhajul Abidin?

Novel Unik Penyadar Diri

Novel KEMI: Cinta Kebebasan yang Tersesat ini dimulai dengan dua sosok sahabat di sebuah pesantren, Kemi dan Rahmat. Kedua sahabat ini saling berprestasi dan menjadi santri teladan di pesantren Minhajul Abidin punya Kyai Aminudin Rois. Tetapi persahabatan itu berubah ketika Kemi ingin meninggalkan pesantren.

Kemi terbujuk dengan dengan pengaruh kakak kelasnya yang lebih dulu meninggalkan pesantren, Farsan. Farsan menjanjikan kehidupan yang sejahtera dengan beasiswa kuliah di Universitas Damai Sentosa. Ternyata Farsan mempunyai niat buruk, yaitu menjadikan Kemi sebagai salah satu pasukan yang akan menentang keyakinan agamanya sendiri.

Rahmat sahabat karib kemi di pesantren tidak mau tinggal diam mendengar perubahan drastis yang terjadi kepada Kemi. Akhirnya rahmat pun memperdalam ilmunya kepada Kyai Fahim Rupawan (hal. 108) yang terkenal mumpuni dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam. Setelah dirasa cukup dan mampu, akhirnya Rahmat dikirim ke Jakarta untuk menyadarkan Kemi kembali.

Novel Kemi ini sangat bermanfaat, karena telah mengajarkan kita semua bahwa; Umat Islam saat ini telah dijajah oleh musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan Islam dari umatnya sendiri. Merubah cara berpikir umat Islam dan memprovokasi agar saling menyerang dan melemahkan sesama muslim. Menjadikan pemikiran dan pemahaman umat Islam dangkal dan jauh akan ajaran agamanya sendiri.

Tinggalkan Balasan