Kontemplasi Melalui Lantunan Puisi

Ayat-ayat Api-Sapardi Djoko Darmono

Ayat-ayat Api ini merupakan kumpulan puisi yang merupakan hasil kontemplasi Sapardi terhadap wacana sosial di sekitar. Salah satu kontemplasinya mengenai peristiwa tragedi Mei 1998 yang terjadi di Jakarta, hingga lengsernya Presiden Soeharto. Selain itu, kisah-kisah kepedihan rakyat Indonesia tertuang baik melalui tulisan-tulisan yang menggunakan kata-kata indah.

Penggunaan kata Ayat bukan lagi sekadar berarti “kalimat”. Ayat sudah menjadi tanda. Ayat-ayat api pun menjadi tanda-tanda kehidupan (bdk. Bakdi Soemanto, 2006). Seperti bunyi puisi Sapardi ini: “Api adalah lambang kehidupan, itu sebabnya kita luluh-lantak/ dalam kobarannya.” Pilihan kata yang konotatif itulah yang dipilih Sapardi dalam menuangkan kontemplasinya melalui kumpulan puisi ini. Ayat-ayat Api antologi ini terdiri dari tiga bab: Ayat-ayat Nol, Ayat-ayat Arloji, dan Ayat-ayat Api itu sendiri.  Ayat-ayat Api ini adalah kumpulan tulisan yang mengajak manusia untuk berkontemplasi dan merenung.

Trilogi Pertama: Ayat Nol

Bab Ayat-ayat Nol ini menuangkan kontemplasi Sapardi tentang keberadan manusia yang adalah dari nol. Kelak juga kembali menjadi menjadi nol. Hal tersebut dapat ditafsirkan sebagai gambaran bahwa manusia patut menyadari bahwa dirinya adalah nol. Tidak layak merasa superior ketika semasa menjalani nilai angka 1 hingga 9, samapai kembali menuju nol lagi.

 “Ia tak sempat bertanya kenapa dua kali dua hasilnya sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar dari tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol. Dan setiap kali menghitung dua tambah tiga kali empat kurang dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhumah neneknya dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.

“Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.” (1984)

Puisi yang sangat cair di atas mengembalikan kenangan pada masa kecil yang polos dan jujur itu. Tak ada memang yang lebih nikmat dari “kencing saja di kasur” itu. Perilaku si anak kecil yang “menjadi Nol” itu seolah hendak mengatakan: Hidup ini seperti hitungan yang memiliki ketidakpastian (kebetulan) dalam kepastianya. Tentu, situasi ini membingungkan, bagi orang dewasa sekalipun. Tak heran kalau dia hanya percaya angka “nol”, pada hati nuraninya.

Trilogi Kedua: Arloji

Ayat-ayat Arloji ini menuangkan tulisan tentang manusia yang terkadang  lupa akan sempitnya waktu. Makna tersebut kuat tertuang pada “Dongeng Marsinah” (1993-1996) yang terkenal itu. “Marsinah buruh pabrik arloji,/ mengurus presisi:/ merakit jarum, sekrup, dan roda gigi…” tulis sapardi di pada bagian /1/ membuka puisi ini. “Marsinah itu arloji sejati,/ tak lelah berdetak memintal kefanaan/ yang abadi:/ “kami ini tak banyak kehendak,/ sekedar hidup layak,/ sebutir nasi (p.27).”

Puisi satu ini memang begitu sadis dan ironis. Pada bagian /3/ dan /4/ berbunyi: “Di hari baik bulan baik,” Marsinah dijemput, lalu kemudian disiksa. Bahkan di hari baik dan bulan baik itu, “Marsinah diseret/ dan dicampakkan –/ sempurna, sendiri (p.29-30).” Duh.

Puisi protes sosial Dongeng Marsinah begitu lekat di hati. Bahkan saya anggap sebagai puisi terbaik sapardi dalam buku kumpulan ini. Patutlah pula kita mengenang Marsinah, buruh pabrik arloji itu. “Marsinah itu arloji sejati/ melingkar di pergelangan/ tangan kita ini (p.32),” tulis Sapardi, menutup kisah tentang ketidakadilan, kekejaman, dan keserakahan manusia.

Puncak Trilogi: Ayat-ayat Api

Ayat-ayat api merupakan salah satu judul puisi Sapardi dalam buku ini, dan diangkat menjadi judul buku. Menjadi pertanyaan tentunya: mengapa Sapardi mengangkat “api” menjadi tema sentral buku ini. Padahal mungkin lebih dari 35.7% puisi-puisi Sapardi, sejak awal, senantiasa menyinggung tentang hujan, tulis Bakdi. Boleh jadi, keheranan itu menjadi daya tarik tersendiri dalam buku ini.

Dapatkan koleksi Sapardi Djoko Darmono berjudul Ayat-ayat Api ini dengan membeli melalui pranala ini.

Buku Ayat-ayat Api berhasil menghadirkan puisi-puisi imajis profesor tua ini tentang merahnya api pada tragedi Mei 1998 yang masih meninggalkan trauma panjang bagi kita, khususnya bagi etnis Tionghoa. Peristiwa berdarah ini menjadi salah satu sejarah terkelam republik ini. Di mana lorong-lorong kota menjelma tarian naga meliuk merah diiringi pekik anak dara yang belum lulus esde, tulis Hanna Fransisca dalam Konde Penyair Han.

Rupanya peristiwa itu bukan sekadar lakon Anoman obong dalam dongengan Ramayana, namun benar-benar terjadi di negeri ini. Kisah pewayangan ini sangat kuat digambarkan romo Sindhunata dalam novel terkenalnya, Anak Bajang Menggiring Angin.

Alkisah, Anoman, si kerah putih itu, diutus oleh Prabu Ramajaya untuk melihat keadaan Dewi Sinta yang ditawan Rahwana di negeri Alengka. Setelah berhasil menjenguk Sinta, Anoman tertangkap. Tumpukan kayu disediakan di alun-alun Alengka. Anoman hendak dibakar di sana. Namun begitu api menyala, Anoman melepaskan diri. Kera sakti itu lalu terbang, dan membakar semua rumah di Alengka.

Juga pada tahun 1997, mungkin masih lekat dalam ingatan kita akan lagu Anoman Obong yang digubah oleh Ranto Edi Gudel, dan menjadi hit terlaris saat itu — melebihi lagu pop lain. Boleh jadi lagu ini sebagai isyarat akan datangnya tragedi besar. Menyata pula ‘ramalan’ dalam lagu ini setahun kemudian, yakni pada Mei kelabu 1998. Kota Jakarta, Solo, Surakarta dan kota-kota lain benar-benar menjadi lautan api, seperti Alengka yang kobong; terlihat dalam lirik Anoman Obong berikut:

Anoman, si kethek putih/ sowan taman, Sinta diajak mulih/ konangan Indrajit lan putih/ ning Anoman ora wedi getih.// Ela… ladalah Ngalengka diobong/ Togo Bilung padha pating ndomblang/ omah gedhe padha dadi areng/ Dasamuka kari gereng-gereng… (Anoman, si kera putih/ datang ke taman, mengajak Sinta pulang/ Ketahuan Indrajit dan patihnya/ namun Anoman tiada takut akan darah./ Ela… ladalah Alengka dibakar/ Togog Bilung jadi linglung/ rumah-rumah besar jadi arang/ Dasamuka tinggal marah geram).

Korban-korban tragedi Mei jatuh bergelimpangan, hingga tak ada tempat untuk mengubur (/15/). Karena itu, “mungkin satu-satunya basa-basi yang tersisa/ adalah menguburmu sementara dalam ingatan kami. (p.145).” Sungguh malang nasib mereka. Biarlah kita tetap mengubur mereka dalam kenangan, dalam ingatan tentang peristiwa itu: menjadi sesuatu yang abadi.

Tinggalkan Balasan