Anak Bajang Menggiring Angin

Anak Bajang Menggiring Angin-Sindhunata-2010

Diriwayatkan di negara Lokapala, hidup seorang putra mahkota dari Begawan Wisrawa, Prabu Danareja. Dia jatuh hatipada putri Sukesi. Putri yang tidak lain dari sahabatnya, Sumali, seorang raksasa dari negeri Alengka. Karena Ayahanda Prabu Danureja sangat mencintai anaknya, Ia memutuskan untuk pergi menemui Sumali untuk melamar putri Sukesi. Setiba di Alengka, Begawan Wisrawa mengutarakan niatnya. Sumali mendengarkan dengan seksama. Sebagai sahabat yang dikasihinya itu, Sukesi mengajukan syarat agar permohonan Begawan Wiswara dikabulkan. Sukesi sambil bersumpah, mengajukan syarat hanya mau menerima lamaran dari orang yang bisa menerjemahkan arti mimpinya. Mimpi tersebut yaitu menguraikan makna Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Begawan Wisrawa memutuskan untuk memenuhi persyaratan dengan mengartikan makna Sastra Jendra demi putranya.

Apakah Sukesi berhasil menguraikan Sastra Jendra? Apakah dengan memahami Sastra Jendra maka keduanya telah menjadi sempurna sebagai titah? Batara Guru memutuskan untuk turun ke dunia, ia akan menguji kekuatan budi Begawan Wisrawa dan Sukesi.

Usaha yang Terus Diperjuangkan

Gagal menaklukkan kedua makhluk dunia yang berada di ambang kesempurnaan, Batara Guru kembali ke kahyangan. Sementara itu jagad raya bergemuruh. Bala tentara kejahatan menemui Batara Guru.
“Hai Raja para Dewa, keluarlah, dan dengarkanlah kami,”
“Lihatlah, berjuta-juta manusia yang mengiringi kami. Mereka ini belum lelah dengan dosa-dosanya. pandanglah tangis mereka. Kami ingin mereka tetap menangis, karena memang demikian kehendak mereka. Jangan sampai tangis mereka diubah menjadi kebahagiaan oleh kesucian Wisrawa dan Sukesi, yang kini sudah berada di ambang Sastra Jendra.”

“Maka, hai Raja para Dewa, jangan kau mengira mereka telah berhasil memasuki alam ilahimu. Mereka masih milik kami. Percobaanmu terhadap mereka belum lengkap. Manusia itu adalah laki-laki dan wanita. manusia belum menjadi ilahi, bila hanya lelaki saja yang bisa memiliki cahaya ilahi. Dan manusia belum ilahi pula, bila hanya wanita saja yang bisa memiliki cahaya ilahi. Turunlah ke dunia dan cobailah mereka berdua bersama-sama. Nanti kau akan tahu bahwa keduanya adalah makhluk yang masih ingin berdosa. Wisrawa dan Sukesi tak mungkin menghindar dari kekuasaan kami. mereka sama dengan manusia-manusia yang mengiringi kami dengan tangisnya ini.”

Kau dilahirkan dalam kesatuan dengan jagad semesta. Pada kelahiranmu kekuatan jagad semesta itu menyatu, menjadi milikmu, mewujud dalam rupa kawah, ari-ari (dua kembar), darah, dan pusar. Maka sebenarnya kau lahir bersama kakang kawah, adhi ari-ari, getih, dan puser. Kelima saudaramu itulah yang menemani kelahiran dan hidupmu. Kami semualah kekuatan jagad semesta yang telah melahirkanmu. Dan ketika kau dilahirkan, tersebarlah kawahmu di timur, darahmu di selatan, ari-arimu di barat, dan pusarmu di utara. (hal 208).

Batara Guru kembali ke dunia bersama Dewi Uma. Keduanya menyusup ke dalam tubuh masing-masing pria dan wanita itu. Wisrawa dan Sukesi pada akhirnya gagal menghayati Sastra Jendra dalam kehidupannya meski mereka sudah memahami dalam pikirannya. Dalam penyesalannya mereka berdua mendengar suara ilahi.

“Hati manusia dalam badan jasmaninya itu demikian lemahnya. Budimu bisa membayangkan keluhuran apa saja, tapi serentak dengan itu hatimu bisa terjerumus ke dalam kenistaan tak terkira. Maka, anakku Sastra Jendra pada hakekatnya adalah kepasrahan hati pada ilahi, supaya yang ilahi menyucikannya. Kepasrahan hati itulah yang tak kau alami, ketika kau merasa memahami Sastra Jendra. Kau dihukum oleh kesombongan budimu sendiri, yang tidak mempedulikan jeritan hati dalam belenggu jasmaninya yang masih berdosa tapi ingin pasrah.”

Dan, Sukesi pun melahirkan kandungannya, seorang anak dengan sepuluh muka raksasa, yang kemudian dinamakan Rahwana. Kelak, Rahwana inilah yang menculik Dewi Sita dari suaminya, Rama. Sepuluh muka Rahwana melambangkan semua nafsu manusia dan kekacauan budinya.

Memahami Makna di Balik Cerita

Diilhami dari kisah pewayangan Ramayana, Sindhunata mengemas karya sastra ini dengan sangat menarik, dan sarat dengan nilai-nilai filosofi. Pemahaman mengenai kandungan cerita dibahasakan menengah oleh penulis. Meskipun sarat pesan kehidupan, bagi penggemar tulisan filosofi yang kurang begitu memaknai penamaan tokoh pewayangan, akan sedikit mengalami kebingungan.

Secara menyeluruh, penampakkan tokoh melalu kisah pewayangan sarat akan nilai budaya, selain nilai filosofis itu sendiri. Sindhunata, meskipun tulisan ini telah ditulis sangat lama, masih memiliki nilai korelatif pada dinamika kehidupan manusia, kapannpun masanya.

Tinggalkan Balasan